sumberkepustakaanpresiden.pnri.go.id
Hubungan dua negara serumpun antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas belakangan ini. Pemicunya penahanan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh Polisi Diraja Malaysia. Sebelumnya, nelayan Malaysia ditahan karena melanggar batas laut Indonesia. Jalan keluar yang ditempuh hanyalah barter tawanan yang menurut sebagian kalangan di Indonesia tak adil.
Ketakadilan ini karena para pegawai Indonesia tak melakukan pelanggaran, mereka hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi untuk menangkap siapa saja dari luar Indonesia yang melanggar batas laut. Dan menurut kabar yang beredar bahwa pegawai KKP yang ditahan oleh Malaysia diperlakukan seperti tahanan layaknya tersangka kejahatan dan narkoba. Tentu saja hal ini membuat berang dan akibatnya aksi aksi demontrasi anti Malaysia merebak di mana mana.
Di Jakarta, sejumlah elemen masyarakat mendatangi Kedubes Malaysia. Beberapa diantaranya bermaksud melempar kotoran manusia namun dapat dicegah oleh polri. Di Medan, sejumlah anggota masyarakat bermaksud mensweeping orang Malaysia yang kedapatan berada di Kota Medan.
Perseteruan dua negara yang bertetangga mengalami pasang surut harmonis dan memanas. Harmonis membikin adem, dan memanas membuat tensi semakin menaik seolah tak gentar jika diajak perang. Di laman jejaring sosial kekesalan itu tercetus di beberapa status yang kayaknya kagok kalau tak perang, arek arek moal moal, ente jual ane beli, mungkin seperti itu perasaan sebagian elemen masyarakat yang mungkin saja berkali kali menahan kesabaran berkonfrontasi Malaysia.
Dan seingat penulis, hampir selalu Malaysia menjadi pemicu terjadinya konfrontasi. Ingat saja pengklaiman beberapa hasil budaya yang diklaim oleh bangsa Malon-lawan ejekan dari Indon-seperti reog ponorogo, rasa sayange, batik, dan lain lain. Kita? Tentu saja saja dengan sangat sabar berkali kali melayani permintaan maaf mereka. Indonesia yang berpenduduk hampir 240 juta selalu sabar menghadapi mereka yang berpenduduk hanya 10% dari Indonesia. Hmmmmm.
Ini tentu saja bukan yang pertama. Konfrontasi paling kolosal dengan Malaysia terjadi di jaman Presiden Soekarno yang penuh hiruk pikuk dan hingar bingar dengan semangat anti nekolim. Soekarno dengan canggih dan fasih mampu menggerakkan dan menggiring rakyat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.
Pendirian negara Malaysia pada tanggal 16 September 1963 menjadi pemicu konfrontasi ini. Mulanya Indonesia mendukung rencana pembentukan Malaysia yang dikemukakan oleh Teungku Abdul Rahman, Mei 1961. Rupanya, seperti ditulis Firman Lubis dalam buku Jakarta 1960-an, tanggal 8 Desember 1962 terjadi pemberontakan oleh Partai Rakyat Brunei (PRB) pimpinan Azahari. PRB yang merupakan partai pemenang pemilu di Brunei tak terima karena rencana mempersatukan Sarawak, Brunei, dan Sabah dalam sebuah negara Kalimantan Utara tak mendapat tanggapan. Inggris malah mendukung pembentukan negara baru Malaysia.
Revolusi belum selesai yang didengungdengungkan Soekarno dan situasi waktu itu yang penuh dengan semangat anti nekolim serta ketaksukaan dengan yang berbau Old Emerging Forces membuat rakyat Indonesia dibawah Soekarno menyatakan konfrontasi. Ganyang Malaysia dan jargon Ini Dadaku Mana Dadamu menjadi kosakata lumrah pada tahun tahun tersebut. Dwi Komando Rakyat menjadi momentum untung menggagalkan pembentukan Malaysia. Untung saja tak terjadi perang besar besaran antara Malaysia dan Indonesia.
Sampai terjadinya pageblug 30 Spetember 1965 dan sesudahnya, hubungan Indonesia dan Malaysia belum harmonis. Berakhirnya kekuasaan Soekarno dan beralih kepada Soeharto menjadi awal dirajutnya kembali hubungan dua negara yang bertetangga ini. Namun tak banyak yang tahu bahwa dibalik harmonisnya kembali Jakarta-Kuala Lumpur adalah berkat peran Dr. Mohammad Natsir, seorang tokoh Islam, mantan menteri penerangan di awal awal revolusi, pencetus mosi integral di tahun 1950, dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Berkat peran Natsir-lah hubungan dua negara ini membaik setelah misi ini gagal dijalankan oleh Ali Moertopo dan Leonardus ”Benny” Moerdani. Ali-Benny ketika diutus oleh Soeharto untuk menemui Tun Abdul Rahman tak berhasil karena Perdana Menteri Malaysia ini keburu meninggalkan Kuala Lumpur yang sepertinya enggan menemui mereka.
Seperti ditulis majalah Tempo edisi khusus Mohammad Natsir bahwa, “Misi Ali dan Benny gagal. Natsir pun menjadi harapan. Ia dikenal dekat dengan Abdul Rahman. Mereka beberapa kali bertemu, ketika bangsawan asal Kedah itu berkunjung ke Indonesia. Sofjar bertanya cara memulihkan hubungan kedua negara. Natsir menjawabnya dalam surat pendek: ”Ini ada niat baik dari pemerintah Indonesia untuk memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Mudah-mudahan Tengku bisa menerima.” Sofjar membawa tulisan tangan Natsir itu ke Kuala Lumpur. Dengan bantuan Tan Sri Ghazali Shafii, yang lama duduk dalam kabinet, surat sampai ke tangan Abdul Rahman. Segera setelah membaca surat Natsir, ia berkata, ”Datanglah mereka besok di tempat saya.” Delegasi Indonesia diterima esok harinya. Hubungan kedua negara berangsur cair”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar