Minggu, 26 September 2010

Kebudayaan Non-Melayu dan Non-Jawa

Kebudayaan Non-Melayu dan Non-Jawa


Profil seorang gadis Sunda. Meski beragama Islam - salah satu ciri kebudayaan Melayu-masyarakat Sunda memiliki corak budaya yang berbeda dengan Melayu atau Jawa
Ada sementara pendapat mengatakan,bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan non-Melayu dan non-Jawa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh ras lain, seperti China (ras Mongol), Eropa (ras Kaukasia), Afrika (ras Negro), dan sebagainya. Meskipun demikian di antara bangsa Indonesia sendiri ada beberapa sukubangsa yang tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan Melayu dan wilayah kebudayaan Jawa, karena tidak memiliki ciri-ciri kedua tipe kebudayaan tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Orang Sunda dapat dijadikan salah satu contoh sukubangsa yang tidak dapat digolongkan dalam kebudayaan Melayu atau kebudayaan Jawa. Walaupun orang Sunda beragama Islam, yang merupakan salah satu ciri kebudayaan Melayu, namun mereka memiliki corak kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan Melayu atau Jawa.

Demikian pula halnya dengan orang Lampung, mereka juga beragam Islam namun memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri. Beberapa pihak membedakan sukubangsa Lampung menjadi dua sub-sukubangsa, yakni orang Lampung yang beradat pepadun (Lampung Pepadun) dan orang Lampung yang beradat Saibatin atau Peminggir (Lampung Peminggir). Orang Lampung memiliki bahasa sendiri yang disebut behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa ini masih dapat dibagi menjadi dua logat atau dialek, yaitu dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung; yang masing-masing dibedakan atas dasar pengucapan “a” dan “o”, sehingga biasanya juga disebut dialek “a” dan dialek “o”. Orang Lampung juga mempunyai aksara sendiri, yang biasa disebut surat Lampung.


Upacara naik Pepadun, Lampung. Acara adat pemberian gelar ini membedakan masyarakat Lampung menjadi dua sub suku bangsa yakni Lampung Pepadun dan Lampung Peminggir atau Lampung Saibitin, yang menjalankan adat Saibitin. Seperti halnya orang Sunda, masyarakat Lampung, meski beragama Islam, juga memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri
Selain itu di Indonesia terdapat kelompok sosial lain yang tidak secara langsung mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu, akan tetapi menggunakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, di tanah Minahasa ada sejumlah sub-sukubangsa Minahasa yang masing-masing menggunakan dialek tersendiri.
Sedangkan sebagai sarana komunikasi antar anggota sub-sukubangsa itu digunakan bahasa lain, yaitu bahasa Melayu Manado.

Ketiga bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan Melayu, Jawa, serta non-Melayu dan non-Jawa, sesungguhnya telah saling berinteraksi sejak dahulu kala, yaitu sejak adanya kontak antara kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kepentingan-kepentingan hidup sosial, ekonomi, dan politik, telah menjadikan interaksi itu bervariasi, mulai dari sifatnya yang positif berupa kerjasama atau tolong-menolong sampai yang negatif berupa perselisihan dan peperangan.


"Barongsay", salah satu contoh kesenian berasal dari Kebudayaan Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan kesenian lokal. Salah satu contoh gedung di Indonesia yang arsitekturnya dipengaruhi gaya arsitektur Eropa

Masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut beriteraksi untuk kepentingan hidup yang paling azasi, bergaul untuk memenuhi hasrat sosial dan kebutuhan hidup mereka. Pergaulan antara individu-individu yang berlainan jenis biasanya berakhir dengan perkawinan. Dari perkawinan itu diperoleh keturunan yang disebut peranakan, misalnya peranakan China, peranakan India, peranakan Belanda (Indo), dan sebagainya.

Tidak semua interaksi antara anggota-anggota ketiga kebudayaan tersebut menghasilkan pembauran. Akan tetapi adanya pembauran memang berawal dari adanya interaksi. Interaksi yang relatif banyak menghasilkan pembauran ialah dengan bangsa India dan Arab yang beragama Islam. Interaksi sosial yang berawal dari aktivitas perdagangan dan penyebaran agama, banyak menyebabkan perkawinan antara masyarakat setempat dengan para pendatang. Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan yang menyatu dengan masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut.


Ukiran kayu Banjarmasin bermotif kaligrafi. Pengaruh kebudayaan Arab yang islami sangat menonjol di Indonesia. Hal ini terjadi karena efektifnya penyesuaian budaya islam kedalam budaya lokal Indonesia Patung Budha di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Contoh bangunan monumental yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha yang berawal dari kebudayaan India.

Interaksi sudah barang tentu membawa pengaruh kepada kebudayaan setempat yang telah ada sebelumnya, dalam hal ini kebudayaan Melayu dan kebudayaan Jawa. Perubahan kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia oleh bangsa asing, telah dapat diterima dan diserap oleh kebudayaan setempat (pribumi). Sejak dahulu kala sampai saat ini banyak bangsa asing yang datang ke Indonesia, dengan demikian telah terjadi kontak kebudayaan sejak berabad-abad lamanya.
Orang-orang keturunan Arab di Indonesia misalnya, lebih mudah bergaul dengan penduduk pribumi Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya persamaan latar belakang keagamaan, yaitu agama Islam, yang dibawa para pedagang bangsa Gujarat dari India pada sekitar abad ke-15. Ajaran agama Islam menjadi efektif di Indonesia setelah melalui proses penyesuaian dengan budaya lokal.
Pengaruh kebudayaan Arab yang sangat menonjol di Indonesia dapat dilihat dari bentuk bangunan mesjid, penggunaan kata-kata dari bahasa Arab, serta dalam berbagai tradisi atau upacara adat yang bernafaskan agama Islam.
Kontak kebudayaan dengan bangsa India yang secara luas dapat dirasakan ialah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Buddka di Indonesia. Bukti adanya kontak dengan kebudayaan India adalah adanya peninggalan sejarah purbakala, antara lain candi Prambanan dan Borobudur yang terkenal itu.


Dalam keanekaragaman suku, agama, adat-istiadat, rasa persatuan dan kesatuan tetap dijunjung tinggi. Bhinneka Tunggal Ika
Sastra suci Ramayana dan Mahabharata yang didasarkan pada agama Hindu mengilhami seniman-seniman Indonesia menciptakan kreasi wayang purwa yang tumbuh dan berkembang tidak hanya di Jawa, tapi dikenal hampir di seluruh Nusantara. Demikian pula dalam kehidupan kemasyarakatan, sistem kasta di India diterapkan dalam kebudayaan Bali, terutama untuk mengatur pembagian kerja, serta sistem pewarisan kedudukan dan peranan sosial secara geneologis.
Keberadaan bangsa-bangsa asing di Indonesia menambah keanekaragaman kebudayaan yang ada. Pada umumnya mereka berupaya untuk membaur dengan orang Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengadakan perkawinan campur. Hasil perkawinan campur inilah menurunkan bangsa atau suku-bangsa campuran, seperti orang Mestizo di propinsi Timor Timur, orang China peranakan, atau orang “Indo”. Meskipun demikian mereka tetap merasa sebagai bangsa Indonesia, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

http://www.indonesiamedia.com/2004/06/early/budaya/budaya-0604-melayujawa.htm

Asal Usul Bendera Indonesia

Siapa Yang Lebih Dulu Menggunakan Bendara Merah Putih : Indonesia, Polandia atau Monaco?

  • Asal Usul -Polandia
    Bendera Polandia terdiri atas dua garis horizontal dengan lebar yang sama, bagian atas putih dan bagian bawah merah. Dua warna tersebut didefinisikan dalam konstitusi Polandia sebagai warna nasional.

    Putih dan merah secara resmi diadopsi sebagai warna nasional pada tahun 1831. Hal itu didasarkan atas tincture (warna) khas dari lambang dua negara konstituen Persemakmuran Polandia-Lituania, yaitu Elang Putih dari Polandia dan The Pursuer of Lituania, seorang ksatria berkulit putih yang menunggangi kuda putih lengkap dengan perisai merah. Sebelum itu, tentara Polandia memakai kombinasi berbagai warna. Bendera nasional secara resmi diadopsi pada tahun 1919. Sejak tahun 2004, Polish Flag Day dirayakan pada tanggal 2 Mei.


    Monaco
    Bendera nasional Monaco terdiri atas dua strip horizontal yang sama, merah (atas) dan putih (bawah). Warna Merah dan Putih sudah menjadi corak khas The House of Grimaldi paling tidak semenjak 1339, namun dengan desain yang berubah-ubah.. Desain dua warna diadopsi pada tanggal 4 April 1881, di bawah pimpinan Pangeran Charles III.

    Bendera Monako yang asli (berbentuk sama dengan Bendera negara Monako tapi dengan gambar simbol negara versi sebelumnya di tengahnya) sudah digunakan sejak awal kerajaan ini berdiri, kecuali saat Monako di-aneksasi Perancis pada periode 1793-1814. Bentuknya kini yang lebih sederhana mulai digunakan sejak 4 April 1881.


    Indonesia
    Bendera nasional Indonesia, yang dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih ("Merah Putih") didasarkan pada bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 di Jawa Timur. Bendera itu sendiri diperkenalkan dan dikibarkan secara resmi di hadapan dunia pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Desain bendera masih tetap sama sampai sekarang.

    Warna merah putih berasal dari bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Kemudian, warna-warna itu dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan para nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme melawan Belanda. Bendera merah-putih dikibarkan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan Belanda, bendera itu dilarang berkibar. Sistem ini diadopsi sebagai bendera nasional pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan telah digunakan sejak saat itu.

    Ada juga cerita lain tentang bendera Indonesia, yang secara signifikan berhubungan dengan bendera Belanda. Di bawah kolonialisme Belanda, setiap urusan menggunakan bendera Belanda (merah-putih-biru). Sedangkan bendera Indonesia dilarang digunakan. Sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda, kaum nasionalis Indonesia dan gerakan kemerdekaan merobek bendera Belanda. Mereka merobek bagian bawah bendera, dan memisahkan warna merah dan putih dari warna biru. Alasan utamanya adalah karena biru pada bendera Belanda dipahami sebagai berdiri untuk aristokrasi "berdarah biru". Sebaliknya, warna merah mewakili darah yang tertumpah dalam Perang Kemerdekaan, sedangkan putih bisa dipahami untuk melambangkan kemurnian Indonesia.

    Nama resminya adalah Sang Merah Putih sesuai dengan Pasal 35 UUD 1945. Bendera ini juga biasa disebut Bendera Merah Putih, Sang Dwiwarna, atau Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka adalah bendera yang dikibarkan di depan rumah Soekarno beberapa saat setelah dia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bendera Pusaka ini adalah dijahit oleh Ibu Fatmawati Soekarno, dan dikibarkan setiap tahun di depan istana presiden pada saat upacara hari kemerdekaan. Namun, karena dianggap terlalu rapuh, Bendera Pusaka dikibarkan untuk yang terakhir kalinya pada 17 Agustus 1968.

    Merah berarti keberanian, sedangkan putih berarti kemurnian. merah tersebut merupakan tubuh manusia atau kehidupan fisik, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia atau kehidupan rohani. Bersama-sama mereka berdiri untuk melengkapi manusia.

    Secara tradisional, sebagian besar masyarakat Indonesia telah menggunakan merah dan putih sebagai warna suci mereka, pencampuran warna gula (warna merah berasal dari gula kelapa atau Gula aren) dan beras (berwarna putih). Sampai hari ini, keduanya merupakan komponen utama masakan Indonesia setiap hari. Rupanya, penduduk Kerajaan Majapahit juga menggunakan konsep ini dan dirancang sebagai bendera merah dan putih.

    Note : Kerajaan majapahit berdiri tahun 1293



    KESIMPULANNYA
    Polandia menggunakan corak bendera putih-merah pada tahun 1831
    Monaco menggunakan corak bendera merah-putih pada tahun 1339 (itupun desainnya masih berubah-ubah)
    INDONESIA, menggunakan corak bendera MERAH PUTIH sejak jaman Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293!!

    INDONESIA adalah yang PERTAMAX menggunakan bendera MERAH PUTIH dan tidak pernah mengalami perubahan desain bendera. Walaupun sering terjadi pergolakan di dalam negeri, perubahan sistem pemerintahan, penjajahan oleh kaum imperialisme, MERAH PUTIH akan tetap berkibar!! MERDEKA!!!!



    sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5200020

  • Indonesia-Malaysia

    Indonesia-Malaysia
    Konflik Itu Cuma Permainan
    Minggu, 26 September 2010 | 14:25 WIB

    Ilustrasi                                                   SHUTTERSTOCK
    JAKARTA, KOMPAS.com - Konflik dua negara, Indonesia-Malaysia, yang tampak meruncing pascapenangkapan tiga Petugas Kementrian Kelautan dan Peringatan oleh polisi Diraja Malaysia dinilai sebagai permainan politik pemerintah kedua negara. Pemerintah Indonesia maupun Malaysia sengaja membesar-besarkan dan mengulur-ulur penyelesaian konflik karena mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan dalam negeri masing-masing.
    "Ini dua rezim aneh dua-duanya, Indonesia dan Malaysia. Kedua negara tidak mampu menyelesaikan konflik dalam negeri," ujar Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi School of Goverment, Fadjroel Rachman, usai kuliah umum yang diberikan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Anwar Ibrahim, di Jakarta, Minggu (26/9/2010).
    Menurut Fadjroel, masalah perbatasan Indonesia-Malaysia yang kerap memicu perselisihan hanyalah masalah teknis yang seharusnya dapat diselesaikan secara teknis, bukan dengan emosi. Solusinya sederhana. Pemimpin kedua negara harus bertemu dan menyampaikan visi dan misinya yang jelas.
    Hal senada disampaikan Anwar Ibrahim. Menurutnya, pemerintah berkuasa Malaysia melalui media sengaja membesar-besarkan masalah, memperlihatkan seolah-olah rakyat Malaysia terancam kemarahan orang Indonesia. "Seolah dibesarkan kalau negara kita Malaysia terancam kemarahan orang Indonesia. Ini dongeng baru. Tidak benar," tuturnya.
    Ditambah lagi, media-media Malaysia tidak pernah menyampaikan hal positif tentang Indonesia. "Pemerintah Malaysia membiarkan supaya tenaga rakyat terlepas. Seolah-olah ada perkelahian, padahal tidak ada. Mempermainkan akal sehat dan emosi masing-masing rakyatnya," jelas Anwar.

    Rakyat Malaysia Tidak Benci Indonesia

    Anwar Ibrahim:
    Rakyat Malaysia Tidak Benci Indonesia
    Minggu, 26 September 2010 | 14:03 WIB
    KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
    Anwar Ibrahim.
    JAKARTA, KOMPAS.com — Mayoritas rakyat Malaysia tidak membenci Indonesia. Kalau ada aura kebencian mengemuka di publik, itu adalah permainan media masssa Malaysia yang selalu menyampaikan hal buruk tentang Indonesia.
    "Tidak benar jika dikatakan mayoritas rakyat Malaysia tidak suka Indonesia. Ini hanya mayoritas kecil, kemudian dipermainkan oleh media," ujar mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim saat menyampaikan kuliah umum bertajuk "Reformasi Politik dan Demokratisasi di Malaysia" di Jakarta, Minggu (26/9/2010).
    Selama ini, tutur Anwar, media Malaysia tidak pernah menyampaikan hal positif mengenai Indonesia seperti pemberantasan korupsi yang dinilainya berlangsung cukup baik. "Ini tidak sehat dalam jangka panjang. Di Malaysia tidak ada liputan positif sama sekali tentang MK (Mahkamah Konstitusi), kritikan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tidak ada pembahasan sama sekali, seolah-olah Indonesia korup semua," tuturnya.
    Padahal kenyataannya, masyarakat Malaysia banyak yang pro Indonesia. Masyarakat Malaysia, kata Anwar, mengenal mantan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Soekarno-Hatta sebagai tokoh nasional mereka. "Soekarno-Hatta dinilai tokoh nasionalis. Buya Hamka dianggap sebagai ulama kami, dan 'Rasa Sayange' ini lagu kami, tapi saya tahu, asalnya dari Indonesia," ucapnya.
    Sesungguhnya, ia melanjutkan, berdasarkan sejarah, Indonesia dan Malaysia masih saudara serumpun, yaitu rumpun Melayu. Jika dilihat dari sejarahnya, rumpun Melayu baik Indonesia maupun Malaysia berasal dari Bukit Saguntang, Mahameru, Sumatera. "Kita tidak boleh padamkan kenyataan sejarah hubungan Indonesia-Malaysia," tegas Anwar.

    Sabtu, 04 September 2010

    Sejarah Konfrontasi Indonesia VS Malaysia



    Roabaca.com, Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

    Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

    Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg tanggal 31 Juli 1963, Manila Declaration Wikisource-logo.svg tanggal 3 Agustus 1963, Joint Statement Wikisource-logo.svg tanggal 5 Agustus 1963[4] mengenai dekolonialisasi Wikisource-logo.svg yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB.[5] sebagai wilayah Non-Self-Governing Territories

    Latar Belakang
    Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

    Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

    Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

    Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.
    “     Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda[6], amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.     ”

    Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[7]an juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.

    Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[8] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:
    “   
    Kalau kita lapar itu biasa
    Kalau kita malu itu juga biasa
    Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

    Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
    Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

    Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

    Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

    Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
    Ganjang... Malaysia
    Ganjang... Malaysia
    Bulatkan tekad
    Semangat kita badja
    Peluru kita banjak
    Njawa kita banjak
    Bila perlu satoe-satoe!

    Soekarno.


     Perang

    Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:

    * Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia
    * Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

    Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

    Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

    Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

    Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

    Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.
    komando aksi sukarelawan

    Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.

    Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 200 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 2000 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

    Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

    Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

    Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

    Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

    Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

    Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia.
    Akhir konfrontasi
    Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

    Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

    KATA -KATA MUTIARA JENDRAL SUDIRMAN

    Yogyakarta 12 November 1945
    Tentara hanya memiliki kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinannya itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara. Bahwa negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapapun juga.
    Diucapkan dihadapan konferensi TKR dan merupakan amanat pertama kali sejak menjabat sebagai Pangsar TKR. Yogyakarta , 1Januari 1946
    Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu “kasta” yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.
    Amanat yang tertuang dalam maklumat TKR. Yogyakarta 17 Pebruari 1946
    Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.
    Amanat dalam rangka memperingati setengah tahun kemerdekaan RI. Yogyakarta 9 April 1946
    Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada yang menyalahi janji, menjadi pengkhianat nusa, bangsa dan agama, harus kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tertentu memakan korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela temanmu yang telah gugur sebagi ratna, lagi pula untuk membela nusa, bangsa dan agamamu, sumpah wajib kamu tepati, sekali berjanji kamu tepati.
    * Percaya kepada kekuatan sendiri
    * Teruskan perjuangan kamu.
    * Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.
    * Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat dan perbuatan menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali.
    * Pegang teguh disiplin tentara lahir dan batin jasa pahlawan kita telah tertulis dalam buku sejarah Indonesia, kamu sekalian sebagai putera Indonesia wajib turut mengisi buku sejarah itu.
    Amanat dalam rangka peresmian status kedudukan TRI bagian udara sejajar dengan TRI lainnya. Yogyakarta 25 Mei 1946.
    Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah yang penghabisan. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik, yang menjalankan kewajibannya, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya sebulat-bulatnya. Sejengkal tanahpun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan…………………. Meskipun kita tidak gentar akan gertakan lawan itu, tetapi kitapun harus selalu siap sedia.
    Amanat dihadapan presiden/panglima tertinggi APRI untuk mengikrarkan sumpah anggota pimpinan tentara. Yogyakarta 27 Mei 1945
    Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah ! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah ! Tentara akan hidup sampai akhir jaman, tentara akan timbul dan tenggelam bersama negara !

    Ganyang Malaysia!




    Habis sudah sabarku
    Ku tak mau lagi melulu
    Tertipu oleh mu
    Sejuta pesona kau tebarkan
    Selaksa janji kau ingkari
    Aku memang rakyat jelata
    Yang slalu terjaga
    Didera nestapa
    Sementara kau
    Terus terlelap
    dalam kenyamanan
    Hanyut terbuai
    kemapanan
    Bagiku tak mengapa
    Tapi setidaknya
    Biarkan aku merasa bangga
    Akan Negriku
    Akan Bangsaku
    Tak perlu lagi sopan santun itu
    Semuanya palsu !

    (..Selamat pagi Indonesia,
    setidaknya biarkan aku memiliki
    Harga diri atas Bangsa ini
    Ganyang Malaysia ! ! )

    http://fiksi.kompasiana.com/group/puisi/2010/08/27/ganyang-malaysia/ 


    10 Kesalahan Malaysia Kepada Indonesia

    Di Hari Kemerdekaan RI Ini Saya terinspirasi nulis artikel ini...
    Berikut ini adalah 10 Kesalahan Malaysia kepada Bangsa Indonesia
    Tidak bermaksud untuk rasis tetapi lebih berdasar kepada pengungkapan fakta-fakta yang terjadi.
    Hidup Lah INDONESIAKU ...

    1. Malaysia mengirimkan teroris-teroris bom ke Indonesia
    http://en.wikipedia.org/wiki/Azahari_Husin http://en.wikipedia.org/wiki/Noordin_Mohammed_To

    2. Malaysia merebut Sipadan – Ligitan
    http://www.dephan.go.id/modules.php?……le&sid=3362

    3. Menginjak-injak harga diri Bangsa Indonesia lewat kasus Ambalat
    http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/…05/10/0802.htm

    4. Berada di belakang layar terjadinya Illegal Logging di Indonesia
    http://www.icmi.or.id/ind/content/view/121/1/

    5. Tidak peduli dengan nasib TKI yang dianiaya majikan
    http://community.kompas..com/index.p……&section=94

    6. Seringkali melakukan pelanggaran batas wilayah Indonesia – Malaysia di pulau Kalimantan
    http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=43546

    7. Polisi Diraja Malaysia melakukan pemukulan terhadap wasit Indonesia
    http://www.kompas..com/ver1/Olahraga/0708/27/225259.htm

    8. Mematenkan (melakukan klaim hak paten) Batik Parang asal Yogyakarta
    http://batikindonesia.info/2006/03/3…nkan-malaysia

    9. Mencoba melakukan klaim hak paten terhadap Angklung (alat musik khas Jawa Barat)
    http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=300853

    10. Blog Malaysia Menghina Indonesia
    http://forum.vivanews.com/archive/index.php/t-4198.html
    indoncelaka.blogspot.com

    Bangsa Indonesia di injak - injak KITA BISA BERBUAT APA KAWAN


    Bonus : Download lagu Kemerdekaan
    Berikut ini adalah daftar Lagu Kemerdekaan, Lagu Wajib Nasional, Lagu Perjuangan dan Lagu Karya Anak Bangsa Untuk Republik Indonesia tercinta :

    Bagimu Negeri Mp3
    Berkibarlah Benderaku Mp3
    Bangun Pemuda-Pemudi Mp3
    Bhineka Tunggal Ika Mp3
    Dari Sabang Sampai Merauke Mp3
    Garuda Pancasila Mp3
    Gugur Bunga Mp3
    Gugur Bunga (Instrument) Mp3
    Halo-Halo Bandung Mp3
    Indonesia Pusaka Mp3
    Indonesia Raya Mp3
    Indonesia Tetap Merdeka Mp3
    Maju Tak Gentar Mp3
    Mars Pancasila Mp3
    Mars Bambu Runcing Mp3
    Mars Harapan Bangsa Mp3
    Mengheningkan Cipta Mp3
    Nyiur Hijau Mp3
    Rayuan Pulau Kelapa Mp3
    Satu Nusa Satu Bangsa Mp3
    Syukur Mp3
    Tanah Airku Mp3
    Gebyar-Gebyar Gombloh Mp3

    Kumpulan Pidato Ir. Sukarno [1950-1960]

    List Pidato :

    1. Pidato Gesuri HUT-RI 1963
    2. Pidato Gesuri2 HUT-RI 1963
    3. Pidato Nuzulul Quran 1962
    4. Pidato Front Nasional 1963
    5. Pidato Hari Pancasila 1950
    6. Pidato Hari Pancasila2 1950
    7. Pidato Hari Pramuka
    8. Pidato Hari Pramuka 2
    9. Pidato HUT-RI 1953
    10.Pidato HUT-RI 1963
    11.Pidato Jasmerah HUT-RI 1966
    12.Pidato Maulid Nabi 1963
    13.Pidato Maulid Nabi2 - 1963
    14.Pidato Mhs Indonesia AS 1956
    15.Pidato Unair 1959
    16.Pidato Usai Keliling Dunia
    17.Proklamasi 1945


    .mp3 format. zip files


    download free -> http://bit.ly/k4X5W

    atau mirror site

    download free-> http://bit.ly/10Bl9Q



    JASMERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah !

    Download kumpulan Pidato- Pidato  Bung Karno
    http://www.ziddu.com/download/2578377/Kumpulan-Pidato-Soekarno-MP3.zip.html 
    PIDATO SOEKARNO (SIDANG RIS)
    http://www.youtube.com/watch?v=dsAU-MjKvc0&feature=rec-HM-r2
    PIDATO SOEKARNO (RAPAT IKADA)
    http://www.youtube.com/watch?v=k1yrzJoGqP0&feature=related
    PIDATO SOEKARNO (PEMBEBASAN IRIAN BARAT)
    http://www.youtube.com/watch?v=Rhqc89fTMgM&feature=related
    PIDATO SOEKARNO (DIDEPAN ISTANA MERDEKA)
    http://www.youtube.com/watch?v=YldTAtdDgCM&feature=related
    PIDATO SOEKARNO
    http://www.youtube.com/watch?v=MeqrCM-qDrA&feature=related
    PIDATO SOEKARNO SAAT HUT RI THN 1964
    http://www.youtube.com/watch?v=ymgjxqA7460&feature=related

    Pengakuan Blogger Malaysia: Jika saya orang Indonesia, saya pun akan membenci Malaysia



    Read more: http://dunia-statistik.blogspot.com/2010/08/pengakuan-blogger-malaysia-jika-saya.html#ixzz0ybnI6HsX

    Kebudayaanku => direbut, Indonesia?


    Negara tetangga kembali berulah dengan melakukan klaim terhadap kebudayaan kita lagi. Kali ini yg menjadi sasaran adalah tari pendet asal Bali. Mereka menggunakannya utk iklan pariwisata malaysia. Setelah mereka “mengirim” teroris ke Indonesia, sekarang mereka mau “mencuri” kebudayaan Indonesia. Huh.. :(. Mereka begitu jeli memanfaatkan situasi dimana sebagian besar rakyat Indonesia sudah tidak begitu memperhatikan kebudayaannya sendiri. Situasi dimana rakyat Indonesia lebih bangga jika menggunakan yg berbau luar dan asing. Situasi dimana, kebudayaan2 tersebut sudah jarang dan hampir punah mungkin dari bumi pertiwi, dikarenakan hanya sedikit orang yg mau tetap melestarikannya. Saya masih ingat, ketika kecil kita sering bermain kuda lumping, dakon, gobak sodor dll. Tapi sekarang, anak2 lebih suka dengan Play Station, bermain ke Time Zone, nonton TV acara2 yg ngga bermutu. Media televisi, juga dengan latahnya mengikuti trend ini. Praktis, mungkin hanya TVRI yg cukup konsisten menayangkan acara budaya2 Indonesia, disamping TV2 lokal tentunya. Dan itupun pemirsanya cuman sedikit.
    Ini menjadi cambuk bagi kita untuk instropeksi, disamping memang ulah negara sebelah yg kelewat batas. Ada puluhan budaya yg telah diklaim oleh negara sebelah. Dan berikut ini daftarnya :
    1. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
    2. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
    3. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
    4. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
    5. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
    6. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
    7. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
    8. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
    9. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
    10. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
    11. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
    12. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
    13. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
    14. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
    15. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
    16. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
    17. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
    18. Kain Ulos oleh Malaysia
    19. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
    20. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
    21. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia
    Daftar tersebut saya sadur dari sumber budaya-indonesia.org

    Terungkapnya Malaysia Mencuri Batu Bara Indonesia Melalui Terowongan Bawah Tanah

    Pencurian Besar Terungkap ... Malaysia Mencuri Batu Bara Indonesia Melalui Terowongan Bawah Tanah Dan Itu Sudah Terjadi Selama Bertahun - Tahun - Malaysia diduga telah mencuri batubara di kawasan Sintang, Kalbar sejak 1999-2008. Hal itu terjadi karena tambang Malaysia di Sarawak di perbatasan telah menjorok ke darat wilayah Sintang, Kalbar Indonesia.

    Inilah Lima Dosa Besar Malaysia Terhadap Indonesia dan Alasan Tidak Terjadi Perang ?

    Survei internal yang dilakukan Universitas Indonesia, pada Februari - Maret 2010, di kalangan mahasiswa Fakultas Fisip dengan obyek survei mengenai Komunitas Asean 2015, menghasilkan sebuah kesimpulan yang dikatakan cukup mengejutkan. Dari beberapa negara Malaysia merupakan negara yang menjadi ancaman terbesar Indonesia. Dengan prosentase 48%, Malaysia mengungguli negara lain sebagai ancaman bila dibanding dengan Amerika Serikat 27,6%, China 12%, Australia, dan Singapura 3,6%.

    Survei tersebut sebenarnya menguatkan apa yang selama ini sudah dilakukan oleh Malaysia kepada Indonesia. Kalau dihitung-hitung Malaysia sudah sering melakukan aksi-aksi sepihak terhadap rakyat dan aset kekayaan Indonesia.

    Pertama, Malaysia membiarkan warganya dan aparatnya melakukan tindakan kekerasan terhadap warga Indonesia di Malaysia. Baik yang berprofesi sebagai TKI, sebagai diplomat, atau delegasi olah raga. Selain itu pemukulan yang dilakukan polisi terhadap wasit karate asal Indonesia dan penangkapan istri diplomat Indonesia oleh RELA --semacam polisi pamong praja, merupakan contoh yang lain.

    Kedua
    , rakyat Indonesia banyak yang bekerja di sektor tenaga kasar dan tidak terampil maka rakyat Malaysia menempatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang rendah dengan sebutan Indon. Kalau dalam bahasa kita sebutan itu sama dengan kere atau babu.

    Ketiga, pemerintah Malaysia secara terang-terangan telah membajak dan mencuri kekayaan hak intelektual Indonesia. Setelah batik dipatenkan, lagu asli Maluku Rasa Sayange, reog ponorogo juga diakui sebagai lagu rakyat Malaysia.

    Keempat,
    merekrut para WNI menjadi AskarWataniyah. Laskar itu berfungsi sebagai pasukan cadangan Tentara Diraja Malaysia yang akan bertugas membantu tentara Malaysia bila terjadi pertempuran.

    Kelima,
    kejadian yang terjadi menjelang peringatan 65 tahun Indonesia merdeka yakni penangkapan tiga pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau oleh Police Marine Malaysia di perairan Indonsia.

    Selalu terulang permasalahan dengan Malaysia sebenarnya sudah menahun namun selalu selesai dengan ungkapan minta maaf atau selesai dengan cara-cara diplomasi. Ketika Tentara Diraja Malaysia melanggar batas-batas wilayah Indonesia masalah menjadi selesai ketika Panglima Tentara Diraja Malaysia minta maaf. Demikian juga ketika pemukulan terhadap wasit karate asal Indonesia dianggap selesai ketika PM Malaysia Ahmad Badawi meminta maaf kepada Presiden SBY.

    Kesepakatan saling memaafkan itu dilakukan dalam rangka untuk menjaga hubungan baik kedua negara. Buktinya, hasil survei yang dilakukan oleh UI itu oleh Kementerian Luar Negeri tak perlu dibesar-besarkan. Dirjen Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri TM Hamzah Thayeb kepada pers mengatakan, setiap negara tetangga pasti ada yang konflik, dan itu hal yang lumrah. Jadi tidak perlu dibesar-besarkan.

    Dari sikap baiknya Indonesia itu rupanya selalu disalahgunakan oleh Malaysia. Selepas Malaysia mampu merebut Sipadan dan Ligitan, negara itu seolah-olah terus mengincar wilayah-wilayah Indonesia. Misalnya Pulau Jemur, di Sumatera; Perairan Ambalat di Kalimantan Timur, dan menggeser patok-patok berbatasan di berbagai wilayah darat di Kalimantan seperti di Tanjung Datu, D400, Gunung Raya, Sungai Buah, Batu Aum, C500-C600, B2700-B3100, Sungai Siman¬tipal, Sungai Sinapad, dan Pulau Sebatik.

    Pelanggaran batas wilayah itu bukan dilakukan secara diam-diam, namun secara terang-terangan mereka lakukan. Tentara Diraja Malaysia dengan lenggang kankung memasuki Perairan Ambalat.

    Menurut catatan TNI AL, di tahun 2009 Malaysia melakukan 13 kali pelanggaran, tahun 2008 terjadi 23 kali pelanggaran, dan tahun 2007 terjadi 76 kali pelanggaran. Namun, Indonesia belum pernah melakukan tindakan tegas, misalnya melakukan tembakan. Padahal dalam hukum, bila sudah diberi peringatan 3 kali tidak mengindahkan maka berhak dilakukan tembakan.

    Mengapa Tidak Memerangi Malaysia?

    Menghadapi ulah Malaysia yang sedemikian rupa, sebenarnya Indonesia menyatakan 'siap perang'. Hal demikian diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka Munas VIII Generasi Muda FKPPI di Caringin, Bogor, (29/10/07). SBY dalam kesempatan itu mengatakan dirinya siap berperang dengan pihak mana pun bila hal sudah mengganggu kedaulatan dan keutuhan bangsa.

    Tuduhan bahwa dirinya takut ketika perairan Ambalat bergolak ditepis SBY. Menurutnya dia saat itu juga terjun langsung ke lokasi dan memantau keadaan. Ungkapan siap dan berani perang itu terkait dengan tudingan tidak tegasnya Indonesia terhadap Malaysia yang sudah berulang kali melecehkan Indonesia.

    Meski Malaysia sudah mengganggu kedaulatan dan keutuhan bangsa, namun Indonesia tidak melakukan apa yang dikatakan SBY tadi, yakni siap berperang. Mengapa Indonesia tidak memerangi Malaysia? Jawabannya karena Indonesia tidak mempunyai dana untuk melakukan peperangan. Kalaupun ada, dana itu lebih diprioritaskan kepentingan lainnya. Hal demikian seperti apa yang dikatakan SBY saat menjadi keynote speech seminar nasional di Seskoad Bandung, 19 Septermber 2008. Menurutnya daripada dibuat perang lebih baik digunakan untuk membangun program lainnya.

    Dikatakan dalam kesempatan itu oleh SBY, sekali kita memilih opsi perang misalnya, harus dimengeri anggaran dan logistik perang yang diperlukan tersediakah di negeri tercinta ini? Anggaran tidak sedikit, termasuk logistiknya untuk membiayai peperangan, pertempuran, prajurit-prajurit kita dan satuan-satuan yang ada masuk medan laga.

    Bagaimana kaitannya dengan prioritas yang lain, untuk kesejahteraan rakyat, untuk pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Mana yang kita pilih? Lantas untuk diketahui, sekali perang dilakukan, maka mesin perang harus terus bekerja, logistik harus tersedia untuk membiayai peperangan itu. Entah sebulan, entah setahun, dua tahun,
    tiga tahun, dan sebagainya.

    SBY mengutip pendapat Joseph E Stiglitz dalam bukunya The Three Trililion Dollar Bill, memaparkan bahwa biaya dan seluruh kegiatan yang mendukung perang yang dilakukan Amerika Serikat di Irak mencapai 3 trilliun US$. Nilai itu menurut SBY kalau dirupiahkan mencapai 27 kali APBN Indonesia. SBY pun mengatakan biaya operasi militer saat konflik di Aceh, Maluku, Maluku Utara, Poso cukup besar. Hal ini menunjukan bahwa secara ekonomi Indonesia tidak kuat untuk membiayai kekuatan militer dan operasionalnya.

    Sebenarnya dalam soal membela kedaulatan dan keutuhan bangsa itu bukan berdasarkan ada atau tidaknya anggaran negara. Namun, sejauh mana tekad kuat pemimpin bangsa melakukan itu. Meski kondisi keuangan negara dalam keadaan krisis, namun Bung Karno tetap membeli ratusan kapal tempur. Hal itu diakui oleh Ali Sadikin. Saat itu, mantan Gubenur Jakarta, itu adalah Deputi II Menteri Kepala Staf Angkatan Laut.

    Dikatakan, oleh Bang Ali, sebutan akrabnya, pada tahun 1960, ia lima kali ke Rusia. Dan, akhirnya Indonesia membeli 150 kapal perang, 14 di antaranya kapal selam, ada juga yang menyebut 24 buah kapal selam. Total harga semua kapal itu mencapai US$ 800 miliar. Para prajurit pun dididik di negara Beruang Merah itu.

    Hadirnya kapal-kapal selam di dalam tubuh ALRI membuat sistem pertahanan dan keamanan Indonesia sangat ampuh. saat Operasi Trikora, kapal-kapal selam Indonesia sukses mengepung Irian Barat dalam rangka mengadakan operasi pengintaian dan menyusupkan pasukan komando ke daratan Irian. Akibatnya Belanda takut dan mengurungkan niat berperang terbuka dengan Indonesia. Alhasil Irian Jaya pun berhasil direbut kembali.

    Bila pemerintah tidak tegas menjaga kedaulatan negara, maka rakyat sendirilah yang kelak akan melakukan tugas-tugas tentara. Buktinya ketika kasus pelanggaran batas wilayah perairan Ambalat oleh Tentara Diraja Malaysia, di berbagai daerah rakyat membuka posko Ganyang Malaysia. Salah satu posko itu berada di Jl Diponegoro 58, Jakarta Pusat, bekas Kantor PDI. Di posko itu ratusan orang mendaftar menjadi sukarelawan ganyang Malaysia. Posko itu membuka sukarelawan mulai 1 September 2009 dan tercatat sebanyak 360 orang lebih menjadi sukarelawan. Dari ratusan orang itu 30-an orang adalah guru honorer asal Jawa Barat.

    Selama mereka mendaftar menjadi sukarelawan, mereka layaknya seorang calon tentara mendapat latihan baris berbaris, menggunakan senjata (bambu runcing), bahkan mendapat ilmu kekekalan. Mereka semua siap bila sewaktu-waktu diberangkatkan ke Malaysia.

    Sebelum posko di Jl Diponegoro itu ada, di Samarinda, Kalimantan Timur, juga ada posko yang membuka pendaftaran relawan. Inisiatif itu dilakukan oleh Organisasi Masa Patriot Nasional (Patron). Rakyat, kader dan simpatisan organisasi Patron mempertahankan perairan Ambalat. Disebut posko itu menerima sukarelawan hingga 7.500 orang.@Detiknews.com

    sumber : http://jekethek.blogspot.com/2010/09/inilah-lima-dosa-besar-malaysia.html
    Aksi Anti Malaysia Masih Ada Karena Pidato SBY
    Mevi Linawati

    (inilah.com/Wirasatria)
    INILAH.COM, Jakarta - Maraknya aksi anti Malaysia yang kini masih bergulir adalah bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat Indonesia atas arogansi Malaysia. Terlebih pasca pidato politik Presiden SBY.
    "Itu akumulasi kekecewaan Masyarakat atas sikap arogansi Malaysia yang tidak direspon oleh pemerintah," kata Wakil Ketua Komisi I DPR yang membidangi hubungan luar negeri saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (4/9).
    Sebab, masyarakat menunggu apa reaksi pemerintah RI. Seperti saat Presiden SBY merespon berbagai isu dahsyat, misalnya video mesum artis Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari beberapa bulan lalu.
    Aksi unjuk rasa mengecam Malaysia belum reda justru pasca pidato politik Presiden SBY terkait konflik itu di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Padahal situasi, kondisi, dan tempat pidato kala itu seharusnya dapat membuat Presiden SBY bersikap tegas.
    "Pidatonya juga lebih banyak pengakuan ketergantungan Indonesia kepada Malaysia dan tidak membangun semangat Nasionalisme," tukasnya. [ikl]
    http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/04/798651/aksi-anti-malaysia-masih-ada-karena-pidato-sby/
     
    indosiar.com, Jakarta - Konflik hubungan Indonesia – Malaysia yang beberapa pekan terakhir memanas, bahkan belum akan reda, bahkan bisa jadi akan makin memanas. Ini terlihat dari aksi anti Malaysia yang makin menguat. Misalnya, munculnya kelompok – kelompok relawan bela negara. Mereka ini mengaku siap membantu TNI berperang melawan Malaysia, jika itu harus terjadi.
    Hubungan Indonesia-Malaysia yang memanas beberapa pekan terakhir, memang mulai memasuki babak baru, ketika pemerintah Indonesia lebih memilih penyelesaian lewat jalur diplomatik, ketimbang konfrontatif, sebagaimana diinginkan beberapa kalangan di dalam negeri. Sampai tadi malampun, pemerintah, menko polhukam dan menteri luar negeri terutama, masih sibuk menerima pertanyaan kalangan anggota DPR, baik soal langkah yang akan diambil terhadap manuver Malaysia di wilayah perbatasan, termasuk soal tempat perundingan, mengapa harus di Kinabalu dan bukannya di Indonesia.
    Di luar langkah diplomatik yang sedang coba ditempuh itu, aksi kelompok masyarakat anti Malasysia masih terus berlangsung. Pemerintah Indonesiapun dikecam, karena dianggap lambat dan tidak tegas.
    Aksi mengecam Malaysia tidak hanya di Jakarta, tapi juga di sejumlah daerah. Di Bandar Kampung, ratusan anggota Laskar Merah Putih berdemo di depan kantor DPRD Lampung, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap tegas dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
    Hal sama dilakukan masyarakat kota Tegal, Jawa Tengah. Mereka minta Presiden SBY cepat bersikap atas arogansi yang ditunjukkan Malaysia. Demikian juga di Bogor, Jawa Barat. Puluhan warga menggelar aksi, menyampaikan kebencian kepada Malaysia, tidak saja dengan seruan boikot seluruh produk Malaysia tapi juga membakar bendera negara tetangga itu.
    Di luar aksi-aksi itu, kini sudah pula muncul kelompok-kelompok anti Malaysia, yang mengaku sebagai relawan dan siap membantu TNI jika harus berperang dengan Malaysia. Di posko bentukan mereka di depan Tugu Proklamasi Jakarta Pusat, mereka membuka pendaftaran bagi mereka yang siap menjadi relawan menghadapi Malaysia.
    Soal munculnya kelompok-kelompok relawan anti Malaysia ini, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat bertemua pemimpin redaksi media nasional mengatakan, harus disikapi secara positif, sebagai bentuk kecintaan warga negara kepada negara dan bangsanya.
    Menurut Menhan, pasca kejadian penangkapan pegawai DKP oleh kepolisian Malaysia, situasi di wilayah perbatasan sudah mulai kondusif, tapi pasukan TNI tetap melakukan patroli rutin, menjaga segala kemungkinan.
    Terkait dengan itu, kepala staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat mengatakan, pihaknya telah menyiapkan radar pemantau. Pesawat tempur TNI Angkatan udarapun terus berpatroli dan melakukan koordinasi dengan TNI Angkatan Laut.
    Di tempat terpisah, Selasa (31/08/10) kemarin, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui, telah minta Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, untuk cepat menyelesaikan masalah perbatasan dengan Malaysia ini, berdasarkan deklarasi Juanda yang sudah ditandatangani 13 Desember 1957.

    Menurut Fadel, pada rapat kabinet pekan lalu presiden sudah memerintahkan menteri terkait, untuk segera menggelar perundingan dengan Malaysia, agar masalah perbatasan ini cepat selesai. Dan presiden sendiri hari ini, rencananya akan menyampaikan sikap pemerintah atas masalah ini. (Tim Liputan/Sup)http://www.indosiar.com/fokus/87327/aksi-anti-malaysia-menguat

    Konfrontasi Malaysia dan Surat Singkat dari Natsir

    kepustakaanpresiden.pnri.go.id
    sumberkepustakaanpresiden.pnri.go.id
    Hubungan dua negara serumpun antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas belakangan ini. Pemicunya penahanan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh Polisi Diraja Malaysia. Sebelumnya, nelayan Malaysia ditahan karena melanggar batas laut Indonesia. Jalan keluar yang ditempuh hanyalah barter tawanan yang menurut sebagian kalangan di Indonesia tak adil.
    Ketakadilan ini karena para pegawai Indonesia tak melakukan pelanggaran, mereka hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi untuk menangkap siapa saja dari luar Indonesia yang melanggar batas laut. Dan menurut kabar yang beredar bahwa pegawai KKP yang ditahan oleh Malaysia diperlakukan seperti tahanan layaknya tersangka kejahatan dan narkoba. Tentu saja hal ini membuat berang dan akibatnya aksi aksi demontrasi anti Malaysia merebak di mana mana.
    Di Jakarta, sejumlah elemen masyarakat mendatangi Kedubes Malaysia. Beberapa diantaranya bermaksud melempar kotoran manusia namun dapat dicegah oleh polri. Di Medan, sejumlah anggota masyarakat bermaksud mensweeping orang Malaysia yang kedapatan berada di Kota Medan.
    Perseteruan dua negara yang bertetangga mengalami pasang surut harmonis dan memanas. Harmonis membikin adem, dan memanas membuat tensi semakin menaik seolah tak gentar jika diajak perang. Di laman jejaring sosial kekesalan itu tercetus di beberapa status yang kayaknya kagok kalau tak perang, arek arek moal moal, ente jual ane beli, mungkin seperti itu perasaan sebagian elemen masyarakat yang mungkin saja berkali kali menahan kesabaran berkonfrontasi Malaysia.
    Dan seingat penulis, hampir selalu Malaysia menjadi pemicu terjadinya konfrontasi. Ingat saja pengklaiman beberapa hasil budaya yang diklaim oleh bangsa Malon-lawan ejekan dari Indon-seperti reog ponorogo, rasa sayange, batik, dan lain lain. Kita? Tentu saja saja dengan sangat sabar berkali kali melayani permintaan maaf mereka. Indonesia yang berpenduduk hampir 240 juta selalu sabar menghadapi mereka yang berpenduduk hanya 10% dari Indonesia. Hmmmmm.
    Ini tentu saja bukan yang pertama. Konfrontasi paling kolosal dengan Malaysia terjadi di jaman Presiden Soekarno yang penuh hiruk pikuk dan hingar bingar dengan semangat anti nekolim. Soekarno dengan canggih dan fasih mampu menggerakkan dan menggiring rakyat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.
    Pendirian negara Malaysia pada tanggal 16 September 1963 menjadi pemicu konfrontasi ini. Mulanya Indonesia mendukung rencana pembentukan Malaysia yang dikemukakan oleh Teungku Abdul Rahman, Mei 1961. Rupanya, seperti ditulis Firman Lubis dalam buku Jakarta 1960-an, tanggal 8 Desember 1962 terjadi pemberontakan oleh Partai Rakyat Brunei (PRB) pimpinan Azahari. PRB yang merupakan partai pemenang pemilu di Brunei tak terima karena rencana mempersatukan Sarawak, Brunei, dan Sabah dalam sebuah negara Kalimantan Utara tak mendapat tanggapan. Inggris malah mendukung pembentukan negara baru Malaysia.
    Revolusi belum selesai yang didengungdengungkan Soekarno dan situasi waktu itu yang penuh dengan semangat anti nekolim serta ketaksukaan dengan yang berbau Old Emerging Forces membuat rakyat Indonesia dibawah Soekarno menyatakan konfrontasi. Ganyang Malaysia dan jargon Ini Dadaku Mana Dadamu menjadi kosakata lumrah pada tahun tahun tersebut. Dwi Komando Rakyat menjadi momentum untung menggagalkan pembentukan Malaysia. Untung saja tak terjadi perang besar besaran antara Malaysia dan Indonesia.
    Sampai terjadinya pageblug 30 Spetember 1965 dan sesudahnya, hubungan Indonesia dan Malaysia belum harmonis. Berakhirnya kekuasaan Soekarno dan beralih kepada Soeharto menjadi awal dirajutnya kembali hubungan dua negara yang bertetangga ini. Namun tak banyak yang tahu bahwa dibalik harmonisnya kembali Jakarta-Kuala Lumpur adalah berkat peran Dr. Mohammad Natsir, seorang tokoh Islam, mantan menteri penerangan di awal awal revolusi, pencetus mosi integral di tahun 1950, dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
    Berkat peran Natsir-lah hubungan dua negara ini membaik setelah misi ini gagal dijalankan oleh Ali Moertopo dan Leonardus ”Benny” Moerdani. Ali-Benny ketika diutus oleh Soeharto untuk menemui Tun Abdul Rahman tak berhasil karena Perdana Menteri Malaysia ini keburu meninggalkan Kuala Lumpur yang sepertinya enggan menemui mereka.
    Seperti ditulis majalah Tempo edisi khusus Mohammad Natsir bahwa, “Misi Ali dan Benny gagal. Natsir pun menjadi harapan. Ia dikenal dekat dengan Abdul Rahman. Mereka beberapa kali bertemu, ketika bangsawan asal Kedah itu berkunjung ke Indonesia. Sofjar bertanya cara memulihkan hubungan kedua negara. Natsir menjawabnya dalam surat pendek: ”Ini ada niat baik dari pemerintah Indonesia untuk memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Mudah-mudahan Tengku bisa menerima.” Sofjar membawa tulisan tangan Natsir itu ke Kuala Lumpur. Dengan bantuan Tan Sri Ghazali Shafii, yang lama duduk dalam kabinet, surat sampai ke tangan Abdul Rahman. Segera setelah membaca surat Natsir, ia ­berkata, ”Datanglah mereka besok di tempat saya.” Delegasi Indonesia diterima esok harinya. Hubungan kedua negara berangsur cair”.

    PARAKU-PGRS : KAMBING HITAM PASKA 

     KONFRONTASI RI - MALAYSIA

    Habis manis sepah dibuang. Itulah nasib tragis ratusan gerilyawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara atau Paraku-Pasukan Gerakan Rakyat sarawak atau PGRS dukungan intelijen militer Indonesia semasa Presiden Soekarno mencanangkan konfrontasi menentang pembentukan Malaysia tahun 1963. Ketika Soekarno menyatakan "Ganyang Malaysia" tanggal 27 Juli 1963, relawan Indonesia dan gerilyawan Paraku-PGRS menjadi Pahlawan Indonesia. Paraku-PGRS menjadi momok menghantui pasukan Malaysia, Brunei, Inggris, dan Australia saat bergerilya di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak. Ketika Soeharto tampil sebagai penguasa yang berdamai dengan Malaysia, Paraku-PGRS pun digempur habis dan disertai kerusuhan anti Tionghoa di Kalimantan Barat tahun 1967 sebagai harga rekonsiliasi Jakarta - Kuala Lumpur.
    Paraku-PGRS terlupakan dalam lembaran sejarah seiring kukuhnya Orde Baru dan baru muncul kembali dalam pembicaraan Indonesia-Malaysia dalam Joint Border Comitee (JBC) di Kuala Lumpur awal Desember 2007.Peneliti kekerasan terhadap Tionghoa, Benny Subianto, menjelaskan, ada benang merah dalam pemberantasan Paraku-PGRS dan kekerasan terhadap penduduk Tionghoa di Kalimantan Barat yang dikenal sebagai peristiwa "Mangkok Merah"
    "Demi menghabisi Paraku-PGRS akhirnya dikondisikan kerusuhan anti Tionghoa. Sebelumnya Dayak, Melayu, dan Tionghoa hidup bersama secara damai di Kalimantan Barat," kata Benny.
    Keberadaan Paraku-PGRS diakui sebagai buah karya kebijakan militer Indonesia. Buku Sejarah TNI Jilid IV (1966-1983) halaman 116-125 mencatat embrio Paraku-PGRS adalah 850 pemuda Cina Serawak yang menyeberang ke daerah RI saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia.
    Buku Sejarah TNI menyebut mereka adalah orang-orang Cina pro Komunis. Pemerintah RI melatih dan mempersenjatai mereka secara militer dalam rangka Konfrontasi Indonesia-Malaysia.

    Lebih lanjut dijelaskan, mereka dibagi menjadi dua kesatuan, yaitu Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Kedua pasukan dikoordinir oleh Brigadir Jendral TNI Suparjo, pejabat Panglima Komando Tempur IV Mandau, berpusat di Bengkayan, Kalimantan Barat.

    Bersama relawan dari Indonesia, Paraku-PGRS yang juga menghimpun Suku Melayu dan Dayak berulangkali menyusup wilayah Serawak dan bahkan Brunei. Salah satu tokoh Revolusi Brunei tahun 1962, Doktor Azhari, yang juga pimpinan Partai Rakyat Brunei diketahui dekat dengan kubu gerilyawan ini.
    Benny Subianto dalam laporan ilmiah itu menjelaskan, banyak pemuda Tionghoa di Sabah, Serawak, dan Brunei menolak pendirian Malaysia karena takut dominasi Melayu terhadap wilayah Sabah, Serawak, dan Brunei.
    Gerilyawan Paraku-PGRS dalam laporan Herbert Feith di Far Eastern Economic Review (FEER) edisi 59 tanggal 21-27 Januari 1968 dilukiskan hidup bagai ikan di tengah air terutama di antara masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat yang waktu itu hidup tersebar di pedalaman.
    Benny Subianto menambahkan betapa gerilyawan Paraku-PGRS dan relawan Indonesia menghantui wilayah perbatasan. Bahkan, mereka nyaris menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles (1/2 GR) dalam serangan terhadap distrik Long Jawi (sekitar 120 kilometer sebelah barat Long Nawang, Kalimantan Timur). Selama berbulan-bulan mereka juga menghantui jalan darat Tebedu-Serian-Kuching (dekat pos perbatasan Darat Entikong) selama berbulan-bulan pada paruh pertama tahun 1964.
    JP Cross dalam buku A face Like A Chicken Backside-An Unconventional Soldier In Malaya and Borneo 1948-1971 halaman 150-151 mencatat betapa serangan relawan Indonesia di Long Jawi tanggal 28 September 1963 menewaskan operator radio, beberapa prajurit Gurkha, dan Pandu Perbatasan (Border Scout). Long Jawi sempat dikuasai sebelum akhirnya Pasukan Gurkha menyerang balik setelah mendapat bala bantuan.
    Di balik perjuangan Paraku-PGRS dan relawan Indonesia, sebagian besar operasi militer selama konfrontasi tidak mencapai hasil memuaskan. Mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Tanjung Pura Soeharyo alias Haryo Kecik dalam memoirnya mencatat, gerakan pasukan dan gerilyawan di wilayah Kalimantan selalu bocor dan diketahui lawan. Menurut Soeharyo, kebocoran justru terjadi di tubuh militer dari Jakarta.
    Adapun dalam laporan ilmiah Benny Subianto disebutkan operasi Paraku-PGRS dan relawan tidak mendapat dukungan penuh dari Angkatan Darat (AD) yang dikenal sebagai kubu anti komunis semasa konfrontasi.
    Setelah Jakarta-Kuala Lumpur berdamai melalui diplomasi di Bangkok, Paraku-PGRS harus diberantas sebagai musuh bersama. Itulah ironi sejarah yang terlupakan ketika kawan harus berubah menjadi kambing hitam/lawan (Disadur dari tulisan Iwan Santosa).
    http://goenaar.blogspot.com/2009/11/paraku-pgrs-kambing-hitam-paska.html

    Puisi Untuk Negeri Ku


    Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sumber kekayaan alamnya begitu berlimpah, dan keaneka ragaman suku dan budaya
    Kenapa kekayaan alam yang berlimpah itu belum membuat Bangsa ini menjadi Bangsa yang Besar dan sejahtera.
    Apakah sumber daya manusia yang kurang berkualitas

    Jawabanya; tidak,karena Bangsa ini Banyak orang–orang cerdas, pintar dan banyak yang berkualitas. Tetapi sayangnya kepintaran dan kecerdasan tersebut hanya untuk diri sendiri, golongan dan partai, Bukan untuk Bangsa ini.
    Jika orang-orang pintar dan cerdas yang ada diNegara ini mengabdikan kepintarannya untuk Bangsa ini dan Kemanusian

    Tentu Bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan sejahtera, dan akan disegani oleh bangsa-bangsa lain yang ada diseluruh dunia.

    Jika Bangsa ini sejahtera pasti kita semua akan sejahtera,
    Tetapi jika Keluarga, kelompok, atau partai kita sejahtera
    belum tentu bangsa ini sejahtera?..

    Marilah pada saat ini kita berpikir, berjuang dan bekerja keras untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negeri yang kita cintai ini.
    Jadikanlah Bangsa ini mercusuarnya dunia!..
    Jadikanlah Bangsa ini cinta akan kedamaian

    Jadikanlah Bangsa ini yang anti Penindasan
    Jadikanlah Bangsa ini menjadi tuan di Negeri sendiri

    Tidak Ada Kata Terlambat, Jika Ada Keinginan Yang Kuat Untuk Maju Dari Seluruh Elemen Bangsa, Maka Buka Sebuah Kemustahilan Negeri Kita Indonesia bisa duduk sejajar dengan Negara-Negara Maju Lainnya. Kepada para Pemimpin Bangsa Ini Tinggal Semua kepentingan kelompok, golongan, partai, mari bersatu untuk kemajuan Bangsa dan Mensejahterakan Rakyat Indonesia……

    ~ Herry Musaffa