Sabtu, 04 September 2010

BUNG KARNO KUTUK PBB !!


Andaikan dulu nggak terjadi G30S/PKI, dan Bung Karno lebih lama lagi berkuasa, Jakarta kemungkinan akan jadi markas besar sebuah organisasi dunia tandingan PBB..Wuih masa iya sih,sangar bener yaa..
Buat mewujudkannya, presiden pertama RI ini sejak jauh hari udah mempersiapkannya. Sebuah gedung megah, yang kini jadi gedung DPR/MPR, oleh Bung Karno dibangun buat penyelenggaraan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces-Konferensi Negara-Negara Kekuatan Baru). Gedung ini diarsiteki oleh almarhum Ir. Sutami. Untuk itu, Bung Karno juga mempopulerkan Nefos (The New Emerging Forces). Nefos, yang akan diikutsertakan dalam CONEFO adalah negara-negara dunia ketiga. Nefos merupakan kekuatan anti Oldefos (Old Establish Forces) istilah untuk negara-negara imperialisme dan kapitalisme.
Penyelenggaraan CONEFO dimaksudkan untuk menandingi PBB yang ketika itu dan hingga kini, dikuasai oleh negara-negara imperialis dan kapitalis. Karenanya PBB, menurut Bung Karno, perlu dirombak dan markas besarnya dipindahkan dari New York, AS. Bahkan sampai akhir 1966, saat menjelang kejatuhannya, Bung Karno masih yakin Indonesia akan dapat menyelenggarakan CONEFO. “Saya sendiri Insya Allah bertekad bulat terus menyelenggarakan CONEFO”, ucapnya pada pidato 17 Agustus 1966 yang tekenal dengan judul ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’, yang oleh banyak orang disingkat jadi ‘Jas Merah’.
“Kalau bisa didalam gedung CONEFO yang kita bangun sekarang dengan banyak rintangan. Kalau tidak bisa karena ’suatu rintangan’ kita adakan di tempat lain. Di tengah sawah sekalipun, karena yang penting adalah semangatnya” katanya waktu itu.
Sebagai puncak ketidaksenangannya pada PBB, Bung Karno pada 7 Januari 1965 mengomandokan: “Indonesia keluar dari PBB”. Komando ini diucapkan dihadapan lebih dari 10 ribu massa rakyat dalam sebuah rapat umum “Anti Pangkalan Militer Asing” di Istora Senayan, Jakarta. Keluarnya Indonesia dari PBB ini mendapatkan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat waktu itu. Hingga tidak heran ribuan mahasiswa, pemuda, buruh, dan tani keesokan harinya turun ke jalan-jalan membawa spanduk sambil mengutuk PBB. Keluarnya RI dari PBB sebagai reaksi terpilihnya Malaysia jadi anggota tidak tetap DK-PBB. Ini menjadi tamparan buat politik konfrontasi RI.
Tapi, sebelum konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno pada 30 September 1960 ketika pidato di SU PBB sudah meminta agar badan dunia itu dirombak dan dipindahkan markas besarnya keluar dair AS. Pidato di SU PBB itu oleh Bung Karno diberi judul “Membangun Dunia Baru”(To Build the World Anew). Ia mendapatkan berkali-kali tepuk tangan saat menyampaikan pidatonya yang berapi-api itu.
Sedangkan pada November 1963, di Jakarta diselenggarakan Ganefo (Games Of the New Emerging Forces) yang sukses dan diikuti 58 negara. Penyelenggaraan Ganefo ini untuk menandingi Olimpiade Dunia. Apalagi waktu itu Indonesia telah keluar dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Karena IOC menghukum Indonesia yang pada Asian Games di Jakarta (1962) menolak ikut sertanya Israel dan Taiwan. Tanpa mau mempedulikan tekanan dari IOC yang memaksa RI mengikutsertakan kedua negara.
Sejak saat itu, Bung Karno makin gencar mengutuk PBB. Yang berakhir dengan keluarnya RI dari organisasi dunia ini. “PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRC (waktu itu Cina diwakili oleh Taiwan), menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa”, tegas Bung Karno.
Dalam pidato 17 Agustus 1965 (Berdikari), Bung Karno banyak mengecam PBB. Menurut Bung Karno, kalo organisasi dunia ini tidak dirombak sama sekali, PBB bukan saja akan ditertawai sebagai mimbar omong kosong, tetapi lebih jelek dari itu. “PBB akan dikutuk sebagai badan yang lebih buruk dari Volkenbold, dan malahan lebih buruk daripada semua parlemen kapitalis digabung jadi satu”, tegasnya.
Dalam nada yang lebih keras, Bung Karno menuduh PBB mewakili dan menindas rakyat-rakyat negara jajahan, dan terang-terangan jadi corongnya kaum imperialis. Ketika tidak lagi berkuasa, Bung Karno masih menyaksikan bagaimana Israel yang menjadi sekutu AS tidak mempedulikan resolusi DK-PBB taon 1967 yang mendesaknya mundur dari negara-negara Arab yang didudukinya. Sementara negara-negara Barat tidak menggubris sama sekali pembangkangan Israel ini. (Hal yang sama persis terjadi saat ini!!!! 
Tulisan diatas bukan berdasarkan fanatisme pada Bung Karno, atawa mendukung satu partai politik tertentu yang behubungan dengannya. Tulisan ini saya maksudkan untuk mengingatkan kembali kita semua pada sejarah yang udah lama kita lupain (ato malahan ada yang belum pernah dengar soal diatas, iih kasian banget dehh..  bahwa kita dulu pernah jadi bangsa yang tegas dan berwibawa, tidak mau diinjak-injak oleh kepentingan asing, yang terutama diwakili oleh PBB,IMF,World Bank. Sudah jelas sekali keikutsertaan negara kita di badan-badan dunia ini tidak membawa manfaat sama sekali, kalo pun ada hanyalah kenikmatan semu belaka, sengsara yang berkepanjangan menanti di belakangnya.
Kita juga merindukan seorang pemimpin bangsa yang tegas, berwibawa, dan berpendirian kokoh untuk bisa mengeluarkan bangsa kita ini dari jurang penderitaan..Semoga saja angan-angan ini kelak bisa terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar